D.A.S

Foto saya
"to defeat your enemies, you must be their friends"

Jumat, 02 September 2011

RANDOM PART 1by: dewi ayu sekarini


DAFTAR ISI


1.Tahun baru yang sepi

2.Semester yang buruk

3.Sesuatu yang mengesankan

4.Ulang tahun keluarga ‘Darkins’

5.Paris,aku datang

6.Aku pasti kembali





TAHUN BARU YANG SEPI


       Malam itu tahun baru.Teriakan dari seluruh warga kota itu terdengar sampai ke rumah keluarga Darkins.Malam itu,malam yang sangat gelap, walaupun banyak kembang api yang menerangi kota itu tetap saja terasa gelap.Dan walaupun bunyi kencang tiupan terompet yang terdengar dimana-mana tetap saja terasa sepi,hening,bagaikan berada di hutan rimbun yang sangat lebat.
       Sambil meneteskan air mata,seorang perempuan berambut panjang, mempunyai bentuk rambut yang bergelombang,bewarna hitam.Wajahnya yang oval dengan dagu sedikit lancip,dan memiliki mata indah dan bulu mata yang lentik.Sambil meneteskan air mata,perempuan itu memandang langit yang di penuhi bintang serta kembang api.Dengan wajah penuh harap,dia berdoa dalam tangisnya.
       “Ya allah,yang maha pengasih dan maha penyayang.Yang berkuasa di seluruh muka bumi ini.Yang selalu mendengar semua hamba-hambanya.Yang selalu menjadikan tempat bergantung bagi hamba-hambanya yang lemah seperti aku, kenapa kau ambil nyawa ibu ku?Dia adalah orangtua terakhir yang aku miliki!.Aku tidak pernah menyangka ibu ku akan terbunuh oleh sepasang manusia, brengsek!.Tuhan kenapa kamu ambil segalanya!!.Ayah ku,ibu ku?dan jangan kau ambil kakak ku yang sekarang sedang sakit ini.Apakah kau mendengar ku disana?Hamba mu yang lemah ini berdoa,berdoa!”.Sambil terisak,febri menutupi wajahnya yang cantik kedalam pelukan tangannya.
       Hari itu cuaca sangat dingin,terpaksa febri harus memakai jaket.Disana, dibukit tempat febri duduk,tempat dimana febri pernah berbahagia dengan ibunya. Dengan orangtua terakhirnya.
       Febri tidak kuat menahan segalanya.Jasad ibunya masih terbaring kaku di rumah bibi darkins di New York.Saat itu,febri berada di New York.Tepat dimana seharusnya semua orang bergermbira menyambut tahun baru,tapi di sisi lain febri malah sedih.Terpuruk,terpojok.Febri merasa terpukul saat itu. Dia benar-benar tidak bisa menahan tangisnya. Dia salalu mencabuti rumput yang ada di sekitarnya,dan melemparkannya jauh-jauh.
       Sekarang mukanya di basahi oleh air mata.Bibinya yang sedaritadi menungguinya tanpa ketahuan oleh febri ikut prihatin.Bagi bibinya,febri adalah seorang anak yang periang,yang cerdas dalam pelajaran di sekokahnya dan selalu membuat orang di sekitarnya tertawa.Bibinya ingin mendekatinya,tapi bibinya takut mengganggunya. “Bibi ikut prihatin, nak.Ibumu akan selalu menemani mu.kapan pun itu” bisik bibi darkins.
       Belum selesai,febri masih terisak dalam kepedihan hatinya.Suasana hantinya terasa gelap,sunyi,hening,dan merasa tidak pernah lagi dia merasa bahagia.Dan belum puas, febri berteriak sekeras mungkin.Meskipun dia tahu, tidak akan seorang pun yang mendengarnya kesuali bibi darkins yang setia menunggunya.Sebenarnya febri ingin di rumah bibinya menunggu ibunya yang sekarang terbaring kaku di kamarnya dan hanya meninggalkan senyum indah di wajahnya.Tapi febri tidak tahan melihatnya.Tidak sanggup mendengar doa-doa yang sedang di bacakan keluarganya untuk ibunya.
Febri memilih menyendiri, dia ingin melepas semua kenangan indah yang pernah dia lakukan dan dia ingat.Tapi semua itu sangat sulit uuntuk di lakukan.Sulit sampai-sampai dia lupa sudah berapa lama dia di sana. Febri merasa ingin kembali ke rumah bibinya.Tapi sebelum dia pergi,dia meniggalkan sesuatu dan menguburnya.Tapi kali ini,tangannya penuh darah.
“Hari ini,kali ini,dan saat ini, aku ingin merasakan apa yang di rasakan ibu ku!.Aku akan merasakan semuanya,meskipun ini tidak seberapa.” Isaknya.Febripun menyilet tangannya dengan pecahan kaca di dekatnya,dan dia berteriak.Dia merasa ingin mati sekarang juga.
Bibi darkins ingin mendekat tapi dia tidak berani.Bibi darkins hanya mengawasinya sambil menangis. Saat itu juga,darah mengalir terus menerus di tangan febri.Febri tidak peduli dia akan dibilang seperti apa nanti setelah sampai di rumah.Dia juga tidak peduli dengan jaketnya.Dia sengaja membiarkan darahnya keluar banyak.Sengaja supaya bisa merasakan kepedihan ibunya.
“Dasar pasangan manusia brengsek!kurang ajar!.Kenapa kalian membunuh ibuku?kenapa tidak aku?kenapa bukan AKUUUU?!!.Hanya orang bodoh yang mau membunuh oran sebaik ibuku dan itulah kalian! Manusia-manusia bodoh!!.” Tangan kirinya terus mengeluarkan darah.Sedangkan tangan kananya menoba membereskan rambut yang berantakan di wajahnya. Febri sungguh tidak sanggup dengan semuanya.Tapi saat itu juga,dia kembali ke rumah dengan lemas.Dan tentu saja masih terisak.Kepedihan hatinya tidak bisa begitu saja hilang dan begitu mudah bagaikan membalikkan telapak tangan.
Belum ada orang yang bisa menyembuhkan hatinya.Mungkin semua orang akan menangis jika orang yang mereka cintai mati.Tapi jika terbunuh secara kasar.Febri benar-benar tidak memaafkan orang itu.
Suasana saat itu masih sepi seperti sebelumnya.Bibi darkins mengikutinya dari belakang.Sekitar satu setengah meter bibi darkins menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh febri.Febri masuk ke rumah bibinya masih menangis dan darah menetes ke lantai rumah bibi darkins. Seketika itu juga kakak febri,dave datang dengan muka terkejut. “Astaga!apa yang kau lakukan?kau gila ya?apa ingin bunh diri?.Jangan bodoh melakukan hal itu!.Apa kau masih waras?” tanya dave.
“Ya,aku masih waras.Karena aku masih waras,aku menyilet tanganku sendiri dengan kaca,supaya aku bisa merasakan apa yang ibu rasakan!” teriak febri. “Tapi kau tidak perlu melakukan seperti ini!!kau pikir aku tidak sakit hati jika ibu kita terbunuh oleh manusia-manusia bodoh seperti mereka?.Kau kira aku tidak dendam dengan mereka?aku ingin membunuh balik mereka tahu!” kali ini suara dave lebih keras.
“Jika hal itu terjadi pada bibi,aku juga akan melakukan hal yang sama dave,” sahut bibi darkins.Seketika itu juga,dave dan febri menengok ke arah bibi. “Bibi kau-” omongan febri terputus “Ya!aku melihatmu sejak tadi.Bibi sengaja mengikutimu,sengaja melihatmu,dan sengaja membiarkan mu karena bibi tahu apa yang kamu rasakan.Bibi tahu apa yang kamu katakan.Manusia brengsek,kurang ajar,bodoh.Itu yang kau katakan,kan?”
“ya” jawab febri singkat. “Sebaiknya aku membalut luka ku.Dan mungkin aku tidak ingin mengganti bajuku” sambung febri
“Bajumu kotor,feb.Cepat ganti.Besok kita akan memakam kan ibu.Kau harus suci,” kata dave.
“Tidak,aku ingin menunjukan ke ibu jika aku juga ingin merasakan apa yang dia rasakan.Bahwa dia tidak memperjuangkan hidupnya sendirian.” Timpal febri.Dan dia langsung kembali ke kamarnya, dan menutupnya.
“Baiklah terserah kau” kata dave pasrah. “Ku rasa sebaiknya kau temani ibumu.Ku harap dia lebih baik sekarang melihat kau dan febri” sahut bibi darkins sambil menuju kamar ibu dave. Dave hanya menganggukan kepalanya.
          Keluarga darkins menganut agama islam.Walaupun akan di makamkan di New York, ibu dave akan dimakamkan secara islam.
Tak lama kemudian, febri datang ke kamar ibunya. “Kak dave,” panggilnya.Dave langsung menengok kea rah febri. “Ada apa?”
“Di mana ibu akan di makamkan?”
“Ku rasa di New York, jika di Indonesia, itu akan membutuhkan waktu yang lama.”
“Mengapa harus di New York? Kita,kita-”
“Masalah?”
Febri masih terdiam dengan mulu menganga.
“Bukan begitu, tapi”
“Tapi apa? New York juga tempat kelahiran ibu,kan?.”
“Ya,memang”
“Tidak ada masalah kalau begitu, Mrs.Febri.”
“Bukan,DENGARKAN AKU DULU!” kali ini suara febri mulai naik.Febri sudah tidak tahan.
“Jika di New York, siapa yang mengurus pemakamannya?yang merawatnya,yang selalu berkunjung-”
“Kita tidak harus berkunjung, feb!.Yang ibu butuhkan hanya do’a.Supaya ibu tenang di surga.Hanya itu.Dan untuk masalah mengurusnya, Bibi darkins dan paman darkins akan merawatnya dan mengunjunginya setiap bulan.Jika perlu setiap minggu.Mengerti?”
Pertanyaan itu seperti pertanyaan orangtua yang melarang sesuatu pada anaknya.Menurut febri itu pertanyaan bodoh.Tentu saja dia mengerti.Dengan wajah kesal, febri hanya mengatakan “Ya,aku mengerti.” Dan febri ikut duduk di sebelah dave dan ikut membacakan doa-doa sampai pagi.
Di sana,di kamar ibunya, hanya ada dave,febri,paman dan bibi darkins.Tidak terasa, subuh sudah menggeluti New York.Tetangga di komplek itu semakin lama makin banyak yang datang ke rumah bibi darkins.
“Darkins, what happened?.Sorry I don’t know-Darkins, ada apa? Maaf aku tidak tahu.” Kata salah seorang perempuan setengah baya yang mendatangi bibi darkins.
“My sister died.Some people kill her.- Kakak perempuan saya mati.Beberapa orang membunuhnya” jawab bibi darkins singkat.
“Oh God. May I enter the room? I want see her for the last time.-Oh Tuhan.Bolehkan saya memasuki ruangannya? Saya ingin melihat dia untuk terakhir kalinya” kata perempuan itu dengan tampak ikut prihatin terhadap bencana yang menimpa bibi darkins.
Tidak hanya itu, beberapa keluarga Darkins juga ikut menjenguknya.Teman dekat ayah maupun ibunya, ataupun tante dan pamannya.
Febri memakasi baju serba putih saat itu.Dia bersandar pada pintu luar.Dia hanya terdiam dan merenung. “Mungkinkah itu berlalu secepat itu? Selama 15 tahun aku bersama ibu, aku belum pernah merasakan yang sangat pedih.Kehilangannya dan tidak akan pernah kembali.” Bisik febri. Tapi tiba-tiba beberapa teman febri jauh-jauh datang ke Indonesia hanya untuk melihat jasad ibu febri.
Terlihat, kate,andin,sufler, dan steve saat itu. “Ya Tuhan.KATE!ANDIN,SUFLER,STEVE” saat itu juga ada senyum ceria di balik wajah febri yang sedari tadi menangis.
“Febri,aku kangen sekali sama kamu! Bagaiman kabar mu?” tanya kate yang langsung memeluk febri.
“Yah,tidak terlalu buruk tapi menurutku ini menyakitkan.Bagaimana dengan keluarga mu kate?mereka baik?”
“Yah,baikbaik saja.Aku turut prihatin atas kematian ibumu feb, ku harap dia akan di tempatkan di surga terbaik.” Doa kate pada febri
“Amin.Dan hei sufler, ku rasa kau bertambah tinggi daripada aku.” Sedikit canda dari febri
“Tentu saja, sekarang aku sering berolahraga dengan steve dan yaa kau tahu tidak?ada satu anak baru yang masuk di sekolah kita.Dia,berasal dari paris. Kau tahu?dia di kagumi banyak cewek.Contohnya saja andin.Dia terpikat lho!” kata sufler
“Benarkah? Aku ingin tahu tampangnya.Andin benarkah kau suka padanya? Aku kira kamu tetap polos seperti dulu”
“Sudah tidak lagi sepertinya.Kau tahu? Aku hampir berpacaran dengan mantan Ketua OSIS di sekolah kita dulu! Tapi ibuku melarangnya.Dan aku suka pada dia sekarang. Hihi” wajah imut andin tetap seperti dulu.
“Kupikir kalian boleh masuk.Aku tidak enak nih dengan kalian jika di suruh menunggu di luar.Tapi,maaf saja banyak orang di dalam.” Kata febri
“Tidak perlu takut! Kami akan muat kok” dan mereka bertiga masuk ke ruangan kecuali steve.
“Hmm hai steve” sapa febri sambil mengangkat tangan dan menganyunkannya ke kanan dan kiri
“Hai feb, wajahmu pucat sekali.Dan.. hey! Apa yang kamu lakukan dengan tangan mu? Apakah orang-orang itu juga ikut mau membunuhmu?” tanya steve heran
“Tidak.Semalam aku menyilet tanganku sendiri dengan pecahan kaca.Nih pecahan kacanya.Aku masih simpan” kata febri jujur
“Tapi kenapa?”
“Aku juga ingin merasakan apa yang ibu ku rasakan steve,aku sangat ingin. Aku dendam pada orang-orang bodoh yang sudah membunuh ibu ku,” kali ini febri ingin meneteskan air mata lagi.Tapi febri berusaha menahannya.
“Hmm,yeah aku tahu perasannmu,Kau terpukul saat ini tapi.. yah kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan ini feb,kamu harus tegar.”
“Orangtuamu masih lengkap steve,kau mudah untuk mengatakannya.Tapi kau belum,bahkan tidak merasakannya.Dan aku,orang yang kau suruh tegar, sudah terlalu tegar untuk di bilang tegar steve!.Aku sudah kehilangan AYAH DAN IBUKU.dan itu semua bukan karena sakit, tapi karena orang-orang yang iri dengan kehidupanku.” Kali ini febri tidak bisa menahan tangisannya.
Steve merasa bersalah saat itu, dia mencoba memberikan febri sapu tangan tapi steve memasukannya lagi.
“Hm,yah maaf kan aku feb, aku tidak bermaksud begitu kok.Sungguh” kata steve bersungguh-sungguh.
Melihat febri mulai menangis,tangan steve menjulurkan sapu tangan yang masih bersih ke febri.
“Trims steve”
“Sama-sama feb.Ku rasa sebaiknya kita masuk ke dalam.Kita ingin mendoakan ibumu kan?jangan menangis ya,” kali ini steve benar-benar menyentuhnya.Menyentuh febri dengan sepenuh hati.
Dia mengusapkan tangannya ke rambut hitam febri.Steve tersenyum. Sejak dulu,steve sudah menaruh hati pada febri.Keluarga steve cukup dekat dengan keluarga febri.Dan alasan kenapa orang tua steve tidak bisa ikut adalah, mereka sibuk.
Steve masih tersenyum, “Ayo kita masuk” ajak febri.Saat itu juga, steve dan febri masuk.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar